<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>All Posts - Anwar's Blog</title><link>https://deployer.dpdns.org/posts/</link><description>All Posts | Anwar's Blog</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>en</language><managingEditor>trianwar@protonmail.com (anwareset)</managingEditor><webMaster>trianwar@protonmail.com (anwareset)</webMaster><copyright>&lt;a href="https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/" target="_blank" rel="noopener">CC BY-NC 4.0&lt;/a></copyright><lastBuildDate>Thu, 11 Dec 2025 12:20:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://deployer.dpdns.org/posts/" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Headscale Self Hosted sebagai Alternatif Tailscale untuk Zero Trust Mesh Network</title><link>https://deployer.dpdns.org/headscale-self-hosted-alternatif-tailscale/</link><pubDate>Thu, 11 Dec 2025 12:20:00 +0700</pubDate><author>anwareset</author><guid>https://deployer.dpdns.org/headscale-self-hosted-alternatif-tailscale/</guid><description>&lt;p>Ketika membangun infrastruktur yang terdistribusi, kebutuhan akan konektivitas yang aman, fleksibel, dan terpercaya menjadi prioritas utama. Headscale hadir sebagai solusi self-hosted yang memberikan kebebasan penuh untuk mengelola jaringan mesh private kita sendiri. Berbeda dengan Tailscale yang mengandalkan server terpusat milik vendor, Headscale memungkinkan kita untuk memiliki kontrol penuh, manajemen identitas, dan konfigurasi jaringan. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana cara mengimplementasikan Headscale lengkap dengan Headplane sebagai web interface, sehingga kita dapat membangun ekosistem zero-trust networking yang aman dan efisien. Implementasi yang akan kita bahas mencakup instalasi di atas container (Docker Compose), konfigurasi SSL/TLS (dengan Caddy), integrasi OIDC (Google ID) untuk autentikasi yang robust, serta praktik operasional untuk mengelola nodes, routes, dan exit nodes. Dengan pendekatan hands-on, kita akan memahami setiap aspek teknis dari Headscale dan bagaimana menerapkannya di environment produksi.&lt;/p></description></item><item><title>Canary Deployment dan Mirroring Dengan Traefik</title><link>https://deployer.dpdns.org/canary-deployment-dan-mirroring-dengan-traefik/</link><pubDate>Sun, 26 Jun 2022 00:55:48 +0700</pubDate><author>anwareset</author><guid>https://deployer.dpdns.org/canary-deployment-dan-mirroring-dengan-traefik/</guid><description>&lt;p>Saat kita melakukan deployment aplikasi ke versi terbaru pada Kubernetes, mungkin muncul kecemasan akan adanya insiden tak terduga walaupun versi terbaru sudah lolos tahap testing. Guna mengurangi kemungkinan insiden dalam skala besar, kita dapat memakai skenario bernama Canary.&lt;/p></description></item><item><title>Setup Gitlab Server with Ansible</title><link>https://deployer.dpdns.org/setup-gitlab-server-with-ansible/</link><pubDate>Sun, 10 Apr 2022 21:02:23 +0700</pubDate><author>anwareset</author><guid>https://deployer.dpdns.org/setup-gitlab-server-with-ansible/</guid><description><![CDATA[<p>Selain Gitlab <a href="https://glossary.cncf.io/software_as_a_service/" target="_blank" rel="noopener noreffer ">SaaS</a> yang biasa kita akses dari <a href="https://gitlab.com" target="_blank" rel="noopener noreffer ">gitlab.com</a>, kita membangun sebuah server Gitlab secara manual ataupun otomatis, salah satunya adalah menggunakan Ansible Playbook. Gitlab dapat di-install dengan beberapa metode seperti Docker dengan Docker Compose, Helm charts jika ingin berjalan di atas Kubernetes, Operator jika berjalan di atas OpenShift, hingga instalasi dari sourcecode untuk dapat berjalan di atas berbagai platform yang tidak didukung. Pada artikel kali ini saya akan menggunakan package official untuk distro Linux, dan sebagian besar proses akan dilakukan secara otomatis menggunakan Ansible.</p>]]></description></item><item><title>Plug and Play USB Devices dengan Udev Rules</title><link>https://deployer.dpdns.org/plug-and-play-usb-devices-dengan-udev-rules/</link><pubDate>Fri, 21 Jan 2022 19:07:20 +0700</pubDate><author>anwareset</author><guid>https://deployer.dpdns.org/plug-and-play-usb-devices-dengan-udev-rules/</guid><description><![CDATA[<p>Perangkat USB yang terpasang ke komputer dengan sistem operasi GNU/Linux akan dimonitor oleh daemon dari Udev. Saya baru saja membeli sebuah USB Mouse <em>hybrid</em> yaitu Rexus Arka RX107 yang mendukung <em>dual-mode</em> di mana kita dapat menggunakannya secara nirkabel maupun berkabel. Dalam kasus ini mouse dapat terdeteksi dan digunakan secara langsung, namun ada beberapa hal yang saya butuhkan, seperti mengatur beberapa <em>properties</em> pada mouse. Yang saya maksud misalnya akselerasi kursor, kecepatan <em>double-click</em>, hingga kecepatan <em>scroll</em>. Konfigurasi semacam itu terkadang perlu kita <em>adjust</em> secara mandiri dan tidak dapat serta merta dilakukan begitu saja dari System Settings (contohnya <code>xfce4-mouse-settings</code>) di DE (Desktop Environment) XFCE. Terlebih saya tidak menggunakan DE, hanya Window Manager saja.</p>]]></description></item><item><title>Virtualisasi Infrastruktur dengan oVirt</title><link>https://deployer.dpdns.org/virtualisasi-infrastruktur-dengan-ovirt/</link><pubDate>Tue, 30 Nov 2021 00:02:32 +0700</pubDate><author>anwareset</author><guid>https://deployer.dpdns.org/virtualisasi-infrastruktur-dengan-ovirt/</guid><description><![CDATA[<p><a href="https://ovirt.org" target="_blank" rel="noopener noreffer "><strong>oVirt</strong></a> adalah virtualization platform untuk mengelola infrastruktur datacenter. Hypervisor yang dipakai adalah <a href="https://www.linux-kvm.org" target="_blank" rel="noopener noreffer "><code>KVM</code></a>, lalu <a href="httpd://libvirt.org" target="_blank" rel="noopener noreffer "><code>libvirt</code></a> digunakan sebagai interface lewat API dan berkomunikasi dengan <a href="https://www.ovirt.org/develop/developer-guide/vdsm/vdsm.html" target="_blank" rel="noopener noreffer "><code>VDSM</code></a> sehingga dapat hadir dalam bentuk tampilan Web. Artikel ini hanya membahas setup oVirt Node dengan <em>Self-hosted Engine</em> hingga menjalankan <em>guest VM</em>.</p>]]></description></item><item><title>Monitoring Kubernetes dengan InfluxDB v2</title><link>https://deployer.dpdns.org/monitoring-kubernetes-dengan-influxdb-v2/</link><pubDate>Fri, 18 Jun 2021 14:49:12 +0700</pubDate><author>anwareset</author><guid>https://deployer.dpdns.org/monitoring-kubernetes-dengan-influxdb-v2/</guid><description>&lt;p>InfluxDB merupakan time-series database yang dibangun menggunakan bahasa pemrograman Go, dan dikembangkan oleh InfluxData. InfluxDB dioptimasi agar mampu berjalan dengan cepat dan mendukung konsep high-availability untuk menerima time-series data yang dipakai dalam hal monitoring, application metrics, data Internet of Things, hingga analisa secara real-time.&lt;/p></description></item><item><title>NXRM untuk Private Image Registry</title><link>https://deployer.dpdns.org/nxrm-untuk-private-image-registry/</link><pubDate>Mon, 24 May 2021 19:00:33 +0700</pubDate><author>anwareset</author><guid>https://deployer.dpdns.org/nxrm-untuk-private-image-registry/</guid><description>&lt;p>NXRM atau Nexus Repository Manager merupakan open source tool yang digunakan untuk mengelola repository multi-guna, meliputi Docker Image Registry, Java Maven, NPM, Rubygems, YUM, hingga APT. Private Repository sangat berguna bagi environment lokal yang tidak terhubung ke internet secara langsung, selain itu juga dapat digunakan untuk mengurangi penggunaan bandwidth internet, atau meningkatkan kecepatan &lt;em>push and pull&lt;/em> image bagi container.&lt;/p></description></item><item><title>Deployment dengan S2I Process OpenShift</title><link>https://deployer.dpdns.org/deployment-dengan-s2i-process-openshift/</link><pubDate>Fri, 02 Apr 2021 11:57:03 +0700</pubDate><author>anwareset</author><guid>https://deployer.dpdns.org/deployment-dengan-s2i-process-openshift/</guid><description>&lt;p>S2I atau Source to Image adalah sebuah tool untuk mempermudah membangun container images dari source code. Tool ini mengambil source code aplikasi dari repositori Git, melakukan injeksi source code ke dalam &lt;em>base container&lt;/em> berdasarkan bahasa pemrograman dan framework tertentu, kemudian memproduksi sebuah container image baru, lalu container image tersebut akan dipakai untuk menjalankan aplikasi yang telah dirakit.&lt;/p></description></item><item><title>Penerapan Linux OverlayFS pada Container Image</title><link>https://deployer.dpdns.org/penerapan-linux-overlayfs-pada-container-image/</link><pubDate>Fri, 26 Mar 2021 11:45:04 +0700</pubDate><author>anwareset</author><guid>https://deployer.dpdns.org/penerapan-linux-overlayfs-pada-container-image/</guid><description>&lt;p>Adalah tidak mungkin untuk menggunakan container tanpa container image. Artikel ini akan mengulas bagaimana kombinasi mounting filesystem dan penerapannya pada teknologi container dalam membangun container image.&lt;/p></description></item><item><title>Linux dan Elitisme</title><link>https://deployer.dpdns.org/linux-dan-elitisme/</link><pubDate>Tue, 23 Mar 2021 12:21:09 +0700</pubDate><author>anwareset</author><guid>https://deployer.dpdns.org/linux-dan-elitisme/</guid><description>&lt;p>Ada sebuah anggapan di lingkup pengguna komputer bahwa GNU/Linux user mempunyai sikap elitis dan berpikir bahwa mereka lebih baik daripada orang lain yang tidak menggunakan distro GNU/Linux. Untuk mengetahui apakah seseorang itu elitis atau tidak, ada kriteria yang perlu kita perhatikan tentang bagaimana user ini beropini tentang dirinya sendiri dan user lainnya.&lt;/p></description></item></channel></rss>